RESENSI
Oleh : Widi Sri Pujiastuti
Judul Buku : Broadcast Journalism Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, & Script Writer
Penulis : Asep Syamsul M. Romli
Penerbit: : Nuansa, Bandung
Cetakan : I, Mei 2004
Tebal : 160 halaman ISBN 979-9481-45-7
Broadcast Journalism
Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, & Script Writer
Asep Syamsul M.Romli, SIP. – penulis buku ini – lebih dikenal dengan sapaan akrabnya, Kang Romel. Beliau adalah praktisi sekaligus akademisi jurnalistik dan penyiaran. Pernah menjadi wartawan Mingguan Hikmah (Grup Pikiran Rakyat), Majalah Sabili Jakarta, Pemimpin Redaksi Tabloid MQ, Managing Editor Majalah Kandidat, Penyiar, dan masih banyak lagi yang baliau lakukan.
Selain dari buku ini, “Broadcast Journalism Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, & Script Writer”, yang saya resensi. Masih banyak lagi buku-buku lain hasil dari karya tangan dan pemikiran beliau yang lainnya: Isu-Isu Dunia Islam (Dinamika, 1996), Jurnalistik Praktis untuk Pemula (Rosdakarya, 1999), Demonologi Islam (Gema Insani, 2000), Panduan Menjadi Penulis (BATIC PRESS,2002), Jurnalistik Terapan (BATIC PRESS,2003), Kontroversi Ba’asyir (Nuansa, 2003), Lincah Menulis Pandai Bicara (Nuansa,2003), dan Jurnalistik Dakwah (Rosdakarya,2003).
Buku ini membahas seputar jurnalistik, terutama ynag berkaitan dengan broadcasting radio. Secara lebih rincinya, buku ini membahas dan menjelaskan mengenai jurnalistik radio, penyiar radio dan cara kerjanya reporter radio, menulis naskah siaran, menulis naskah berita, dan teknik wawancara.
Jurnalistik secara harfiah memiliki arti wartawan atau kepenulisan. Kata dasarnya “jurnal”, artinya laporan atau catatan, berasal dari bahasa Yunani kuno, “du jour” yang berarti hari, yakni kejadian hari ini diberitakan dalam lembaran tercetak. Secara konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang: 1. Ilmu – objek kajian komunikasi massa; 2. Proses – aktivitas kewartawanan dan kepenulisan; 3. Teknik – skill atau keterampilan menulis. Radio – tepatnya radio siaran (broadcasting radio) - merupakan salah satu jenis media massa, yakni sarana atu saluran komunikasi massa (channel of mass communication), seperti halnya surat kabar, majalah, atau televisi. Hanya saja radio lebih kepada auditif, yakni dikonsumsi telinga atau pendengar. Radio adalah “Theatre of Mind” – mencipta gambar dalam imajinasi pendengar. Jurnalistik radio ini penulisannya menggunakan bahasa lisan dan teknis laporannya melalui suara.
Seorang penyiar adalah ujung tombak, front liner, penentu keberhasilan sebuah program acara radio. Maka dari itu, seorang penyiar harus memiliki modal utama, yaitu kelancaran bericara, kualitas suara yang baik, dan berwawasan luas. Penyaji berita (newscaster) juga seorang jurnalis yang terikat kode etik jurnalistik. Kualifikasi utamanya yaitu menguasai materi berita, menguasai teknik membaca naskah, memiliki kualitas suara standar. Prinsip dasar penyiar dalam siaran adalah “Bayangkan Anda sedang berbicara pada seorang pendengar yang sekarang sedang duduk di hadapan Anda dan…Tersenyumlah”. Tetapi. jika seorang penyiar merasa bahwa dirinya berbicara kepada “lebih” dari satu orang, maka nada suaranya harus berubah.
Terdapat dua poin teknik siaran: berbicara tanpa naskah (ad libitum) yaitu teknik siaran dengna cara berbicara santai, enjoy, tanpa beban atau tanpa tekanan, sesuai dengan seleranya (ad libitum means to speak at pleasure, as one wishes, as ane desires) dan tanpa naskah; teknik membaca naskah (script reading) yaitu penyiar melakukan siaran dengan cara membacakan naskah siaran yang sudah disusunnya sendiri atau dengan bantuan script writer. Saat siaran, penyiar harus memperhatikan artikulasi – kejelasan pengucapan kata; intonasi – langgam suara atau nada pengucapan; aksentuasi – penekanan kata-kata tertentu; dan phrasering – pemenggalan suku kata dan kalimat.
Reporter radio pada dasrnya sama saja dengan wartawan pada umumnya. Reporter adalah orang yang meliput peristiwa, mengumpulkan bahan berita, dan melaporkannya kepada publik. Untuk menjadi wartawan ada beberapa hal yang harus dikuasai, yaitu teknik jurnalistik (skill), menguasai bidang liputan (beat), dan harus menaati kode etik jurnalistik (code of conduct). Untk menjadi reporter radio harus memiliki suara standar, menguasai teknik membaca naskah, menguasai teknik vocal, dan menguasai teknik penulisan naskah. Melakukan tugas reportase haruslah objektif – apa adanya, sesuai dengan kenyataan; imparsial – tidak berpihak kepada siapapun selain kepada profesi sebagai wartawan yang melaporkan peristiwa; akurat – tidak mengandung kesalahan faktual, benar-benar sesuai dengan data yang ada di lapangan; balance – berimbang jika memberitakan kasus pro-kontra atau konflik antara dua pihak. Tugas utama reporter adalah mendapatkan berita dan melaporkannya.
Berita adalah laporan penting. Peristiwa yang diliput harus memiliki nilai jurnalistik atau nilai berita (news values) sehingga laporannya layak siar. Nilai berita yang menjadi tolak ukur layak-tidaknya sebuah peristiwa diliput dan dilapirkan adalah: actual – peristiwa terbaru, terkini, hangat (up to date); faktual –ada faktanya (fact); penting – meliputi besar-kecilnya ketokohan orang ynag terlibat peristiwa serta besar-kecilnya dampak peristiwa pada masyarakat; menarik – memunculkan rasa ingin tahu dan minat pendengar. Prinsip dalam menyampaikan berita adalah menceritakan, bukan membacakan. Karena naskah hanyalah sebagai alat bantu penyampaian materi. Ketika penyampaiannya, mulailah dengan titinada tinggi, akhiri dengan rendah. Dan percepat secara proporsional, selaraskan dengan backsound-nya.
Dalam menulis naskah siaran, susunlah kalimat itu secara sederhana dan pendek. Rumus sederhana dalam penulisan naskah siaran adalah “write the way you talk” artinya “tuliskan sebagaimana cara Anda mengatakannya”. Dengan kata lain, mernulis naskah radio adalah menulis untk “berbicara”, bukan membaca atau menatap. Dalam penulisan naskah berita menggunakan bahasa tutur. Prinsip-prinsipnya: write the way you talk, KISS – Keep It Simple and Short, ELF – Easy Listening Formula.
Cara termudah untk membuat naskah berita radio adalah membayangkan hendak menceritakannya kepada teman. Struktur penulisannya terdiri atas kalimat pembuka (lead) dan tubuh berita (news body). Rumus yang banyak dipakai adalah 5W+1h (what, who, where, when, why, how). Komponen naskah berita radio adalah tease- pemikat, cue – pengantar, lead – bagian awal, dan news body – isi berita.
Wawancara (interview) merupakan tugas reporter yang paling penting. Wawancara merupakan salah satu metode pengumpulan bahan berita. Wawancara itu obrolan biasa, maka bersikap alamilah, wajar dan jangan dibuat-buat. Wawancara banyak sekali jenisya, diantaranya ada wawancara berita (news-peg interview) – untk memperoleh keterangan, menggali fakta, atau pandangan tentang suatu masalah atau peristiwa; wawancara jalanan (man in the steer interview); wawancara pribadi (personal interview).
Buku ini sangat menarik dan enak untuk dibaca. Bahasanya mudah dimengerti, meskipun terdapat beberapa istilah asing yang kurang dipahami. Tetapi, istilah-istilah tersebut pun disertrakan penjelasannya sehingga memudahkan pembaca untuk memahaminya. Akan tetapi, buku ini tidak disertai footnote. Sehingga terlihat sangat sederhana.
Buku ini sangat tepat untuk dijadikan pedoman bagi mahasiswa atau orang-orang yang ingin berkecimpung di dalam dunia jurnalistik.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar